ads here

3 Manfaat Memiliki Wali Kelas Baru di Tahun Ajaran Baru

3 Manfaat Memiliki Wali Kelas Baru di Tahun Ajaran Baru
Guru kampung bersama siswa SMA Kanaan Jakarta
Tulisan ini hadir karena ramainya berbagai komentar siswa - siswi di grup line kelas X 2 SMA Kanaan Jakarta, tentang perubahan komposisi kelas saat kenaikan kelas.
  • Wali kelas berganti,
  • Teman - teman berpindah, 
Sebagian besar berubah.

Mungkin juga di kelas yang lain maupun di sekolah lain. Hal seperti ini biasa dan lumrah, namun bagi siswa - siswi yang telah menemukan kecocokan tentu menjadi suatu beban tersendiri bagi mereka. 

Sebagai guru dan orang tua, kita WAJIB memberikan pengertian kepada kelompok mudah ini untuk menerima perubahan yang ada dan menjalaninya dengan iklas, demi masa depan mereka.

Berikut ini saya bagikan refleksi sederhana saya tentang manfaat memiliki wali kelas yang baru dan teman yang baru.

Pertama Memiliki Pengalaman yang Baru

Hal ini tentu karena wali kelas yang baru pastinya memiliki pendekatan dan gaya komunikasi yang berbeda dari wali kelas sebelumnya.

Jadi otomatis siswa memiliki pengalaman yang baru. Hal ini tentu memperkaya siswa - siswi yang bersangkutan dalam tumbuh kembangnya nanti.

Baik itu pengalaman menyenangkan atau tidak menyenangkan, namun yang penting dan tentunya bermanfaat bagi siswa adalah mereka belajar hal baru yang tidak diperoleh dari wali kelas sebelumnya.

Ini adalah hal yang berharga bagi siswa. Jadi siswa - siswiku sekalian dan para pelajar Indonesia yang terkasih, terimalah perubahan yang ada, semua itu demi masa depan kalian yang lebih baik.  
Hidup pada zona nyaman tidak akan membuat kalian berkembang, tetapi keluar dari zona nyaman dan mempelajari hal baru akan memperkaya kalian nanti.

Benar pameo klasik bahwa “pengalaman adalah guru yang paling baik”.

Sekali lagi bahwa pengalaman itu menyenangkan atau tidak menyenangkan kalian belajar sesuatu yang tidak diperoleh secara terori di dalam kelas.

Lihat saja anak jalanan yang piwai mengutik gitar, apakah mereka belajar dari guru musik?.

Jawabanya tidak.

Mereka belajar dari pengalaman sebagai anak jalanan.

Lihat juga Menteri Kelautan dan Perikan, Susi Pudjiastuti, apakah beliau belajar teori politik, ketatanegaraan, atau belajar menjadi pemimpinan yang baik dari sekolah formal?.

Jawabannya tidak karena beliau hanya tamatan SMP.

 Kok bisa jadi menteri?

Jawabanya adalah beliau belajar dari pengalamannya sebagai pengusaha yang sukses.
Hal ini tidak didapat secara teroritis di bangku pendidikan formal. Jadi anak-anakku sekalian terimalah hal baru ini dan belajarlah untuk menyesuaikan diri.

Kalian bisa dan pasti bisa karena ini hanya soal waktu dan sedikit penyesuaian saja.

Kedua Memiliki Teman Baru

Kata Obbie Mesak, masa-masa yang paling indah adalah masa-masa di sekolah. Menemukan teman baru, melakukan hal baru dan tentunya menghasilkan pengalaman baru. Itu namanya keren, mantap, seru, asik, atau semacamnyalah.

Hal  baru tidak akan kalian dapatkan, jika selama 3 tahun sekolah kalian hanya berteman dengan orang yang itu - itu saja.

Dia lagi-dia lagi. Ah ga asik.

Yang asik itu adalah menemukan teman baru dan melakukan hal baru, apalagi hobbynya sama. Itu namanya super duper asik.

Semua itu tidak dapat kalian peroleh kalau kalian tidak keluar dari zona nyaman. Atau tepatnya tidak rela meninggalkan kelas yang lama dan enggan bersosialisai dengan teman yang baru.

Mau menemukan kisah indah saat di SMA, ayo move on.

Ketiga Mengenal Banyak Karakter Orang

Hal ini penting, jika suatu saat kalian menjadi seorang pemimpin di sebuah perusahan atau lembaga apapun. Maka salah satu unsur yang penting adalah mengenal karakter orang lain, suku lain.

Hal ini akan memperkaya kalian pelajar Indonesia untuk melakukan pendekatan dan kerja sama.

Maksud baik saja tidak cukup tanpa ada komunikasi dan pendekatan yang baik.

Semua itu bisa kalian dapatkan dan miliki jika iklas menerima wali kelas yang baru, mau bersosialisasi dengan teman yang baru dan keluar dari zona nyaman atau bahasa gaulnya move on dari kelas sebelumnya atau juga sekolah yang lama.

Semoga sukses pelajar Indonesia, khususnya komunitas Kuncup (kelas X B SMA Kristen Kanaan Jakarta) yang terkasih. Kalian adalah inspiraiku yang hidup.

Salam sukses kalian pasti bisa. Jangan lupa baca juga 7 cara membuat guru bahagia dan murid senang di sekolah.
Martin Karakabu
Martin Karakabu Guru Kampung dan Blogger Newbie. Personal Blog www.martinkarakabu.com

2 komentar untuk "3 Manfaat Memiliki Wali Kelas Baru di Tahun Ajaran Baru"

  1. Aku masih inget masa2 tiap naik kelas, dan mendapat guru wali kelas yg baru :). Kita lgs happy pas tau dapet yg asyik, tapi lgs sedih gitu tau dapet guru killer wkwkwkwkwk. Pernah aku dpt guru yg super nyeremin. Kalo ga ngerjain tugas, main tempeleng :p. Zaman skr mah, murid di tempeleng bisa naik ke polisi casenya -_- . Padahal dulu, kalo guru sampe mukul murid, kita mah lgs nyeseeel, dan mudian berubah :).

    Tapi aku ga prnh sih dipukul guru, kan anak baik dulu hahahahaha.

    Bener mas, keluar dari zona nyaman, ketemu temen2 baru, itu sebenernya menempah mental kita juga dalam hal sosialisasi. Sayangnya dulu aku sekolah di sekolah khusus anak2 pegawai yg mana ortunya kerja di perusahaan PT Arun LNG, di Aceh Utara dulu. Jd perusahaan ini bikin sekolah khusus dari TK sampe SMU, utk anak2 para karyawannya. Yg sekolah di situ ya cuma anak2 karyawan, org luar ga bisa. Ada bagusnya, kami jd supeeeer akrab sampe skr. Krn dr TK Ampe SMU itu2 aja yg diliat hahahahahah.

    Tp ga bagusnya, saat tiba waktunya kluar dr Arun, banyak dari kita yg culture shock :). Aku termasuk yg kaget dan butuh waktu utk adaptasi. Pas dipindahin ke Medan kls 3 SMU Krn kondisi Aceh memburuk gara2 pemberontakan GAM, banyak anak2 non Aceh pindah eksodus. Aku yg orang Batak, jg hrs pindah Krn takut Ama kondisi waktu itu. Di Medan, aku malah shock aja dapet sekolah yg suasanya beda Ama Arun :D. Padahal Medan itu kampungku, tp aku malah ngerasa asing di sana. Tapi akhirnya pelan2 bisa kok adaptasi , walo ga seakrab Ama temen2 pas di Arun dulu :p.

    Ah, jd kangen Ama zaman2 sekolah :).

    BalasHapus
  2. Hehehe culture shock. Kita senasib mbak, saya pun sampai di Jakarta mengalami apa yang disebut culture shock.

    Sebagai orang Indonesia timur dengan dialek yang katanya aneh menurut orang Jakarta dan itu tantangan terberat saya mbak.

    Diantara itu semua, satu yang pasti, guru dan murid seharusnya memiliki persepsi yang sama karena keduanya saling membutuhkan.

    Caranya bagaimana?

    Hal yang biasa saya lakukan adalah komunikasi interpersonal. Bicara dari hati ke hati barangkali solusi alternatif yang bisa dicoba oleh guru dan peserta didik.

    Terima kasih sudah berkunjung mbak. salam hangat dan tetap semangat ya...

    BalasHapus

Posting Komentar

*Terima Kasih atas Kunjungannya*
Mohon komentar menggunakan url blog, bukan link postingan.