Suport saya dengan Subscribe

Belajar Bukan Sekedar Tahu tetapi Mampu Melakukan

Belajar Bukan Sekedar Tahu tetapi Mampu Melakukan
Guru dan murid ibarat sekeping mata uang yang memiliki dua sisi. Sisi yang satu membutuhkan sisi yang lain untuk menjadi sebuah koin. Demikian juga dengan guru dan murid. Guru membutuhkan murid untuk diajar dan murid membutuhkan guru untuk belajar.

Apakah benar murid membutuhkan guru untuk belajar?

Jawabannya relatif, tergantung cara pandang. Mungkin ada yang berpikir guru tidak dibutuhkan karena semua materi yang dijelaskan guru ada di internet. Mungkin juga ada yang berpikir, walau semuanya ada di internet namun peran guru tidak tergantikan.  

Dua pandangan di atas benar menurut latar belakang masing - masing. Namun penting untuk dijawab adalah untuk apa belajar?

Jika belajar hanya sekedar tahu maka anda tidak membutuhkan guru karena semua pertanyaan anda jawabannya ada di internet. Jika belajar untuk hidup maka anda sangat membutuhkan guru. Berikut ini ulasan singkatnya.

Guru Bahasa Indonesia

Guru Bahasa Indonesia membuat siswa yang tidak tahu menjadi tahu dan mampu melaksanakan apa yang diketahui. 

Ada 4 keterampilan berbahasa dalam pelajaran Bahasa Indonesia. Mendengarkan, berbicara, membaca dan menulis. 

Kita tidak akan tahu huruf 'A' itu seperti apa dan huruf "D" itu bentuknya bagaimana tanpa diajarkan oleh seorang guru. 

Saat seorang anak SD kelas 1 menjawab "ada" dari pertanyaan "apakah bapak ada"; jadi indikator bahwa belajar bukan hanya sekedar tahu tetapi mampu melaksanakan apa yang dipelajari. 

Anak ini telah melaksanakan apa yang menjadi bagian penting dari suatu komunikasi yakni respon yang sesuai antara pembicara dan pendengar.

Guru Matematika

"Orang mati saja butuh duit" itu kata - kata yang pernah saya dengar dari seorang kawan. 

Secara tersirat si kawan ini membahas tentang Matematika. Dia tahu jika 2 - 1 = 1 dan dia mampu menganalisis urusan untung dan rugi. Ilmu hidup yang seperti ini hadir ketika kita tahu konsep dasar ilmu matematika. 

Ilmu matematika akan memampukan kita untuk menimbang sebelum memutuskan. 

Apakah keputusan ini bijak? 

Jawabannya kembali kepada individu.


Jakarta, 26 November 2020

Tulisan ini disertakan dalam program 


#kamisMenulis

Komunitas Lagerunal

16 komentar untuk "Belajar Bukan Sekedar Tahu tetapi Mampu Melakukan"

  1. Mantap bu, guru dan murid seperti 2 sisi mata uang...

    BalasHapus
  2. Banyak yang positif.mksi informasinya

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih sobat guru, senang sekali dikunjungi oleh guru hebat. Salam sukses dan terus berkarya ya...

      Hapus
  3. Guru kampung yang tidak kalah dengan guru kota, mantap jiwa pak Martin. Sukses terus yaaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. heheh mbak Susi guru yang hebat, terima kasih banyak atas kunjungannya. Doa yang sama untuk mbak Susi semoga semakin menginspirasi generasi penerus di bengkulu ya, semangat!

      Hapus
  4. Sukses selalu pak, bagus tulisannya

    BalasHapus
  5. Aku berharaaaap banget anak2 ini bisa belajar lagi secara normal di sekolah, didampingi guru secara langsung. Berasaaa banget mas beratnya jadi seorang pengajar. Aku mungkin ngerti pelajaran2 sekolah anakku, apalagi msh kelas 2 SD. Tapi cara mengajarkan yg baik, sampai mereka PAHAM, itu aku blm kuasai. Yg ada emosi kalo si anak ga ngerti2.

    Aku inget banget pas dulu kecil, diajarin Ama guru dan ortu itu beda banget hasilny. Nth kenapa guru slalu bikin aku bisa paham dgn apa yg diajar. Sementara Ama papa, yg ada ketakutan ga bisa jawab.

    Pantes kalo untuk menjadi seorang guru, butuh pendidikan khusus. Ga cuma sembarang orang asal pinter bisa jd guru :).

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hay mbak Fanny, terima kasih banyak atas kunjungannya, senang sekali dikunjungi oleh blogger yang tulisan - tulisannya menjadi identitas dirinya..

      Harapan kita semua mbak Fanny, kami pun sudah kangen dengan anak - anak tapi kita bisa apa mbak, Mas Menteri sudah kasih kesempatan untuk buka sekolah apabila orang tua (melalui komite sekolah) setuju dan pemda setempat yakin dan jamin tingkat keamanannya.

      Adu jadi terharu mbak, sebagai guru saya sangat senang mendengarkan semacam testimoni ini, semoga kami para guru mampu memegang amanah itu untuk generasi penerus bangsa.

      hehehe iya mbak, tapi menurut saya guru SD lebih hebat, alasannya banyak barangkali suatu saat saya buat dalam bentuk artikel saja.

      Sekali lagi terima kasih atas kunjungannya mbak, salam sukses dan terus berkarya sesuai ciri mbak Fanny, salut dan inspirasi sekali karya yang m,bak Fanny hadirkan.. Kagum!!!

      Hapus
  6. Hadirrr. Mantab, Pak. Salam hangat

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih sudah hadir pak, salam hangat juga, tetap semangat dan terus berkarya.

      Hapus
  7. Belajar bersama guru memang lebih mantap, karena disamping ilmu didapat pendidikan karakter dan teladan baik diperoleh. Ini yang sering dilupakan, dikiranya belajar untuk ilmu semata, les sana-sini, tapi tabiatnya tidak kunjung baik pula. Maaf ini curhatan guru juga., tulisannya mantap salam sukses

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pak Hari terima kasih banyak sudah menguatkan sudut pandangnya, senang sekali atas kunjungannya dan komentar bijak yang diberikan.

      Setuju pak hal yang membedakan belajar di tempat les dan sekolah adalah karakter sedangkan belajar otodidak dan dengan belajar di sekolah formal adalah pengembangan karakter. Terima kasih banyak atas kunjunganya pak, salam hangat dan terus berkarya.

      Hapus
  8. Belajar tanpa guru bisa salah arah
    Sukses selalu pak
    Sukses untuk para guru🙏

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju mbak, terutama di bagian karakternya.
      Harapan yang sama untuk mabk
      Amin, mari sukses sama - sama.

      Hapus
  9. Guru tak bisa tergantikan dgn internet itu memang benar. Ikatan emosional antara siswa dan guru bisa terjadi karena bisa bertemu keduanya. Kalau cuma ingin tahu cukup lihat internet, tapi untuk bisa menerapkan pengetahuan membutuhkan seorang sosok guru, tidak cukup dgn internet. Apalagi di era globalisasi ini diperlukan sosok teladan untuk perubahan moral. Kalau mengandalkan internet maka perangkat internet hanya benda mati yg tdk bisa mmberi contoh nyata dan bisanya cuma memberi pengetahuan saja. Kesimpulannya: perubahan yg diharapkan ke siswa mencakup tiga komponen, yaitu kognitif, psikomotor, dan afektif yg butuh sosok guru

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah luar biasa pak, komentar yang cerdas dan intelektual indikator pendidik sejati.
      setuju sekali pak bahwa zaman boleh maju namun peran guru tidak bisa diganti dengan internet.

      Karena pengembangan karakter adanya pada guru bukan internet. Terima kasih atas kunjungannya, senang sekali atas kunjungan dari pak AHSANUDDIN.

      Sukses selalu dan terus berkarya pak.

      Hapus

Posting Komentar

*Terima Kasih atas Kunjungannya*
Mohon komentar menggunakan url blog, bukan link postingan.